Gurindam 12 Karya Raja Ali Haji



Gurindam 12 Karya Raja Ali Haji

Gurindam 12 Karya Raja Ali Haji adalah sebuah karya sastra yang sangat besar peranannya bagi bangsa serumpun Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Gurindam 12 ini mempertegas bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa yang paling penting di Asia Tenggara ini.

Gurindam 12 ini selain juga karya sastra Melayu yang memiliki nilai moral yang tinggi juga bisa menjadi pemersatu Indonesia dan Malaysia pada hari ini. Dengan mengenal Gurindam 12 maka perlahan-lahan seseorang akan mengenal betapa kentalnya kekerabatan yang disebabkan oleh budaya Melayu. Melintas tapal batas negara, melintas lorong-lorong waktu.

gurindam 12

Raja Ali Haji lahir di Selangor (Kini Negeri di Malaysia) dan mengakhiri hidupnya di Pulau Penyengat, Tanjungpinang (Kini Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia). Karya beliau menjadi kebanggaan bagi para penikmat budaya dan sejarah Nusantara.

Bagi kita yang berasal dari Kepulauan Riau tentu saja hal ini bisa menjadi landasan untuk kita semakin menyayangi Kepulauan Riau. Betapa besar pengaruh Kepulauan Riau ini bagi kawasan Asia Tenggara pada suatu masa lalu. Kita patut malu kepada para pendahulu kita yang telah memiliki karya-karya yang hebat sepanjang masa. Sedangkan kita sekarang, masih berada dibawah awan kebimbangan, seperti kehilangan arah jalur pemikiran. Ayo generasi Kepulauan Riau, nenek moyang kita adalah orang-orang yang bijak. Kalaupun kita tidak bisa sehebat mereka, setidaknya kita harus tetap berusaha mempertahankan nama baik kampung halaman kita. Majulah Kepulauan Riau, Takkan Melayu Hilang di Dunia!

Harus diakui sampai kehari ini belum ada sesuatu karya dari Kepulauan Riau yang boleh menyaingi kehebatan Gurindam 12 yang mendunia ini. Semoga generasi muda Kepulauan Riau yang sedang berkarya termotivasi dengan karya-karya para pendahulu kita. Menyadari siapa kita yang sebenarnya.

Dibawah ini adalah Gurindam 12 karya Raja Haji :

Ini Gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama


Barang siapa mengenal yang empat
Maka ia itulah orang yang ma’rifat


Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.


Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri


Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang teperdaya


Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

Ini Gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut


Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

Ini Gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadaiah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya paedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan.


Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjaian yang membawa rugi

Ini Gurindam pasal yang keempat:
Hati itu kerajaan di daiam tubuh
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perampok yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di mana tahu salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Ini Gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Ini Gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan ‘abdi
Yang ada baik sedikit budi

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah landa hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan khabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah-lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat honar

Ini Gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah yang suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar dan pada orang datangnya khabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripada syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunyikan
Kebaikan diri diamkan

Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban diri hendaklah sangka

Ini Gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka


Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat


Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil.

Ini Gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai
Murahkan perangai

Ini Gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri


Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja


Hukum ‘adil atas rakyat
Tanda raja beroleh ‘inayat


Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu


Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai


Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti


Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta


Demikianlah Gurindam 12 nan tersohor itu. Memang tak seberapa panjang syair dan baitnya, namun begitu sarat akan makna. Gurindam 12, karya Raja Ali Haji.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gurindam 12 Karya Raja Ali Haji"

Post a Comment